Penguasa Ruang Hyper

Apa jadinya kalau kita sudah memecahkan misteri penyatuan semua forsa alam semesta menjadi suatu adiforsa (superforce) tunggal? Pertanyaan ini dijawab Paul Davies, seorang fisikawan dari Australia. Menurutnya, kita bisa mengubah susunan ruang dan waktu, mengikat simpul-simpul kita sendiri pada kehampaan, dan membentuk materi menjadi sesuatu yang memiliki ketertiban. Mengendalikan adiforsa akan memampukan kita membentuk dan mengubah zarah-zarah sesuka hati kita, dan dengan demikian membangkitkan bentuk-bentuk materi eksotik. Kita bahkan bisa memanipulasi dimensionalitas ruang sendiri, dan menciptakan dunia-dunia buatan yang memiliki sifat-sifat yang tak terbayangkan. Kita benar-benar akan menjadi penguasa alam semesta.
Paul_Davies Paul Davies
Foto: Arizona State University Fotografer: Tom Story
Pemanfaatan Forsa-Forsa Ruang Hiper
Kapan kita bisa memanfaatkan forsa-forsa ruang hiper? Agar mampu memanfaatkan daya (power) ruang hiper, kita pertama-tama harus mengukuhkan teori ruang hiper, sekurang-kurangnya secara tidak langsung, di abad ke-21. Akan tetapi, skala energi yang dibutuhkan untuk memanipulasi (dan tidak sekadar mengukuhkan) ruang-waktu dasadimensional agar kita menjadi “penguasa alam semesta” masih jauh selama banyak abad melampaui teknologi masa kini. Jumlah materi-energi yang sangat besar dibutuhkan untuk melakukan tindakan-tindakan hebat yang hampir sama dengan mujizat, seperti menciptakan lubang-lubang hitam dan mengubah arah waktu.
Bagaimanakah kita menjadi penguasa dimensi kesepuluh? Kita entah berjumpa dengan kehidupan cerdas di dalam galaksi kita yang sudah memanfaatkan tingkat-tingkat energi yang sangat besar ini, atau kita berjuang selama beberapa ribu tahun sebelum kita sendiri mencapai kemampuan ini. Energi yang dibutuhkan untuk  menyelidiki energi dahsyat ini bisa menghendaki peremuk-peremuk atom yang panjangnya miliaran kilometer, atau suatu teknologi yang sama sekali baru, sebesar 10 pangkat 19 miliar volt elektron. Energi sebesar ini sekuadriliun (angka 1 diikuti 15 angka nol) kali lebih besar dari energi yang bisa disediakan akselerator terbesar kita di Jenewa, Swis.
Teknologi Berkembang Secara Eksponensial
Ini tidak berarti tidak ada kemungkinan bagi kita untuk mengolah energi ruang hiper di masa depan. Secara historis, teknologi berkembang secara eksponensial. Manusia purba muncul di bumi sekitar 2 juta tahun yang lalu. Dari sudut-pandang energi, tingkat kemajuan teknologi manusia selama sekitar 1.8 juta tahun sebesar sekitar 99,99%, hanya setingkat di atas tingkat teknologi hewan-hewan. Barulah selama 200 tahun terakhir pertumbuhan pengetahuan ilmiah bersifat eksponensial; artinya, tingkat perluasan pengetahuan ilmiah proporsional terhadap seberapa banyak yang sudah diketahui. Semakin kita tahu, semakin cepat kita bisa tahu lebih banyak. Misalnya, kita sudah menumpuk lebih banyak pengetahuan sejak Perang Dunia II dibanding semua pengetahuan yang kita tumpuk selama 2 juta tahun kehidupan kita di bumi. Sesungguhnya, jumlah pengetahuan yang diperoleh para ilmuwan kita berlipat ganda kira-kira setiap 10 sampai dengan 20 tahun. Dengan perkembangan pengetahuan ilmiah dan teknologi secara eksponensial selama beberapa ratus tahun terakhir, kita bisa memperkirakan atau membayangkan kemampuan kita mengolah energi ruang hiper atau energi adiforsa di masa depan.
Peradaban Tipe I, II, dan III
Menambang energi adiforsa itu di masa depan berkaitan erat dengan tingkat peradaban yang memberi pengetahuan ilmiah dan teknologi yang dibutuhkan untuk memanfaatkan energi itu. Peradaban manakah yang akan mampu menjadi penguasa dimensi kesepuluh? Pandangan Nikolai Kardashev, seorang ahli astronomi bekas Uni Soviet, dan perluasan teorinya bisa menjawab pertanyaan ini.
nikolaikardashev Nikolai Kardashev
Kardashev mengelompokkan peradaban masa depan (entah peradaban kita entah peradaban di luar angkasa)  ke dalam tiga tipe. Ada peradaban Tipe I, Tipe II, dan Tipe III. Tipe-tipe dia diperluas oleh Michio Kaku dengan menambahkan peradaban Tipe 0.
Peradaban Tipe I
Peradaban jenis ini sudah mengendalikan sumber-sumber energi suatu planet. Peradabannya bisa mengendalikan cuaca, mencegah gempa bumi, menambang jauh ke dalam lapisan kerak bumi, dan memanen samudera. Peradaban ini sudah menyelesaikan penjelajahan tata suryanya.
Peradaban Tipe II
Peradaban macam ini mengendalikan tenaga matahari sendiri. Ia tidak hanya memanfaatkan tenaga matahari tapi juga menambang matahari. Energi yang dibutuhkan peradaban ini begitu besar sehingga ia secara langsung memakai tenaga matahari untuk menggerakkan mesin-mesinnya. Peradaban ini akan memulai koloninasi sistem-sistem bintang lokal (yang mencakup matahari dan planet yang menerima sinarnya).
Peradaban Tipe III
Peradaban ini mengendalikan tenaga suatu galaksi. Sebagai suatu sumber tenaga, ia memanfaatkan tenaga miliaran sistem bintang di dalam galaksi itu. Ia barangkali sudah menguasai persamaan-persamaan Einstein dan bisa memanipulasi ruang-waktu sesuka hati.
Peradaban Tipe 0
Dasar pengelompokan Nikolai Kardashev agak sederhana. Setiap tingkat dikelompokkan berdasarkan sumber tenaga yang memberi energi pada peradaban. Peradaban Tipe I memakai tenaga suatu planet. Peradaban Tipe II memakai tenaga suatu bintang. Peradaban Tipe III memakai tenaga suatu galaksi. Pengelompokan ini mengabaikan ramalan apa pun tentang sifat rinci dari peradaban-peradaban masa depan (yang cenderung keliru) dan sebagai gantinya memusatkan perhatian pada segi-segi yang secara beralasan bisa dipahami oleh hukum-hukum ilmu fisika, seperti persediaan energi.
Sebaliknya, peradaban kita, menurut Michio Kaku,  bisa digolongkan sebagai peradaban Tipe 0. Ia baru saja mulai merintis sumber-sumber daya planeter tapi tidak memiliki teknologi dan sumber daya untuk mengendalikannya. Suatu peradaban Tipe 0 seperti yang kita miliki memperoleh energinya dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara dan, dalam kebanyakan negara berkembang, memperoleh energinya dari tenaga kasar manusia. Komputer-komputer paling besar kita bahkan tidak bisa meramalkan cuaca, apalagi mengendalikannya. Dipandang dari perspektif yang lebih besar ini, kita sebagai suatu peradaban mirip seorang bayi yang baru lahir.
Kenaikan Eksponensial dari Peradaban Tipe 0 ke Tipe III
Gerak naik dari peradaban Tipe 0 ke Tipe III diperkirakan akan berlangsung selama jutaan tahun. Akan tetapi, ada suatu fakta luar biasa tentang rancangan penggolongan ini: kenaikannya bersifat eksponensial dan karena itu berlangsung jauh lebih cepat daripada apa pun yang bisa kita segera bayangkan.
Misalnya, sumber energi terbesar yang ada pada peradaban Tipe 0 kita adalah bom hidrogen, suatu senjata nuklir berdaya ledak dahsyat. Teknologi kita begitu primitifnya sehingga kita  melepaskan daya fusi hidrogen dengan mendetonasi sebuah bom lebih daripada mengendalikannya dalam suatu generator daya. Akan tetapi, suatu badai yang sederhana membangkitkan daya ratusan bom hidrogen. Jadi pengendalian cuaca, suatu ciri utama peradaban Tipe I, sekurang-kurangnya berada sejauh satu abad dari teknologi kita sekarang.
Serupa dengan itu, suatu peradaban Tipe I sudah membangun koloni pada kebanyakan tata suryanya. Kolonisasi ruang angkasa diperkirakan akan memakan beberapa abad; secara khusus, kolonisasi Mars diperkirakan akan dilakukan antara tahun 2060 dan 2070.
Sebaliknya, peralihan dari suatu peradaban Tipe I ke Tipe II bisa membutuhkan hanya 1.000 tahun. Dengan mengingat akan pertumbuhan eksponensial dari peradaban, kita bisa berharap bahwa dalam 1.000 tahun kebutuhan energi suatu peradaban akan begitu besarnya sehingga ia harus menambang matahari demi menggerakkan mesin-mesinnya.
Suatu contoh khas dari suatu peradaban Tipe II adalah Federasi Planet-Planet yang dilukiskan dalam seri fiksi ilmiah “Star Trek.” Peradaban dalam seri film ini baru saja mulai menguasai forsa gravitasional – yaitu, seni melengkungkan ruang-waktu melalui lubang-lubang cacing – dan karena itu, untuk pertama kali, memiliki kemampuan untuk mencapai bintang-bintang di sekitarnya. Peradaban Tipe II sudah menghindari batas kecepatan cahaya dengan menguasai teori relativitas umum Einstein. Koloni-koloni kecil sudah didirikan pada beberapa sistem bintang ini, yang mati-matian dilindungi oleh kapal ruang angkasa Enterprise. Kapal ruang angkasa ini digerakkan oleh tumbukan antara materi dan antimateri. Kemampuan untuk menciptakan konsentrasi besar antimateri yang cocok bagi perjalanan ruang angkasa menempatkan peradaban itu sejauh banyak abad sampai dengan seribu tahun dari peradaban kita.
enterprise Kapal ruang angkasa Enterprise dari peradaban Tipe II, menurut imajinasi dalam film “Star Trek”
Bergerak naik ke suatu peradaban Tipe III bisa membutuhkan beberapa ratus ribu tahun atau lebih. Isaac Asimov, seorang penulis fiksi ilmiah, yang meramalkan jangka waktu ini memerikan gerak naik, keruntuhan, dan kebangkitan kembali suatu peradaban galaktik. Jangka waktu setiap peralihan ini melibatkan ribuan tahun. Peradaban ini sudah memanfaatkan sumber energi yang terdapat dalam galaksi itu sendiri. Baginya, mesin pendorong yang melengkungkan ruang-waktu bukanlah hanya suatu bentuk eksotik dari perjalanan; ia adalah sarana baku dari perdagangan dan perniagaan antara sektor-sektor galaksi. Jadi, dibanding dengan spesis kita yang membutuhkan dua juta tahun untuk mendirikan suatu peradaban modern, kita bisa membutuhkan hanya ribuan tahun untuk meninggalkan tata surya kita dan membangun suatu peradaban galaktik.
isaacasimov Isaac Asimov
Salah satu pilihan bagi suatu peradaban Tipe III adalah pemanfaatan daya supernova atau lubang-lubang hitam. Kapal-kapal ruang angkasa peradaban ini bahkan bisa mampu menyelidiki inti galaktik, barangkali yang paling misterius dari semua sumber daya energi. Para astrofisikawan sudah berteori bahwa ukuran luar biasa dari inti galaktik mengakibatkan pusat galaksi kita boleh jadi berisi jutaan lubang hitam. Kalau benar, ini secara praktis akan menyediakan jumlah tak terbatas dari energi.
Sampai pada pokok ini, memanipulasi energi-energi sejuta juta kali lebih besar dari energi-energi masa kini dimungkinkan. Jadi, untuk suatu peradaban Tipe III, yang sudah menguasai pemanfaatan energi dari sistem-sistem bintang yang tak terkira jumlahnya dan dari inti galaktik, penguasaan dimensi kesepuluh menjadi suatu kemungkinan yang nyata.
Astrochicken
Agar mampu mewujudkan peradaban Tipe I, II, dan III, umat manusia perlu mengatasi berbagai tantangan. Menurut Freeman Dyson, seorang fisikawan senior pada Lembaga Penelitian Tingkat Maju Universitas Princeton (AS), tantangan itu mencakup arah yang baru dalam penjelajahan ruang angkasa, hakekat kehidupan makhluk-mahkluk ruang angkasa, dan masa depan peradaban.
freeman-dyson Freeman Dyson
Agar mampu beralih dari peradaban Tipe 0 ke Tipe I, Dyson mengusulkan suatu program penjelajahan ruang angkasa yang baru dari AS. Program itu dia namakan Astrochicken.
Istilah ini mengacu pada suatu pesawat peneliti ruang angkasa serba bisa berukuran kecil, ringan, dan cerdas. Astrochicken akan berbobot satu kilogram, tidak dikonstruksi tapi ditumbuhkan, memiliki otak seberat satu gram, bergerak lincah, sebagian mesin sebagian hewan, dan memakai perkembangan yang paling maju dalam rekayasa bio (bioengineering). Selanjutnya, pesawat model baru ini akan diberi daya yang cukup untuk menjelajahi planet-planet di ruang angkasa, seperti Uranus dan Neptunus. Ia tidak akan membutuhkan jumlah bahan bakar roket yang besar sekali; ia akan dibiakkan dan diprogram untuk “memakan” es dan hidrokarbon yang ditemukan di lingkaran-lingkaran keliling planet-planet ruang angkasa. Ususnya yang direkayasa secara genetik akan mencerna bahan-bahan ini menjadi bahan bakar kimiawi. Begitu selera makannya sudah dipuaskan, ia akan meroket ke bulan atau planet berikut.
Astrochicken bergantung pada terobosan-terobosan teknologis dalam rekayasa genetik, kecerdasan buatan, dan mesin penggerak bertenaga listrik-matahari. Dengan mempertimbangkan kemajuan hebat dalam bidang-bidang ini, Dyson memperkirakan bahwa berbagai teknologi Astrochicken bisa diperoleh menjelang tahun 2016.
Peradaban Tipe III di Ruang Angkasa
Kalau kita barangkali membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkan peradaban Tipe III, kita barangkali akan betemu dengan suatu peradaban luar angkasa suatu hari. Peradaban itu sudah memanfaatkan ruang hiper untuk kebutuhannya dan mau berbagi teknologinya dengan kita.
Beberapa planet dalam tata surya kita – Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus – sudah diteliti melalui satelit-satelit seperti Viking tahun 1970-an dan Voyager tahun 1980-an. Tapi informasi yang diperoleh sejauh ini menunjukkan bahwa planet-planet itu terpencil, tandus, tanpa bentuk-bentuk hidup apa pun, dan tanpa air atau samudera. Tidak sekalipun ditemukan peradaban apa pun atau puing-puingnya di planet-planet itu.
Penelitian ruang angkasa melampaui tata surya kita pun belum memberi tanda-tanda akan adanya peradaban Tipe I, II, atau III di luar angkasa. Tapi ini tidak berarti jenis-jenis peradaban itu tidak mungkin tidak ada di antara sekian miliar galaksi (masing-masing berisi sekian miliar bintang) di alam semesta. Bima Sakti, galaksi kita, misalnya, berisi sekitar 200 miliar bintang. Anggap saja 10 persen di antaranya – jadi, 200.000 bintang – memiliki planet-planet berdekatan yang mempunyai bentuk-bentuk hidup yang cerdas. Jaraknya yang paling dekat dengan matahari kita sejauh 15 tahun cahaya. Dengan asumsi bahwa peradaban Tipe II atau III sudah menguasai teknologi radiasi elektromagnetik selama ribuan tahun, kita dari peradaban Tipe 0  sudah bisa mendeteksi siaran jumlah yang banyak sekali dari radiasi elektromagnetik yang menandakan kehadiran mereka pada sekurang-kurangnya satu dari planet-planet yang masing-masing berdekatan dengan 200.000 bintang itu.
Mengapa diperkirakan ada kehidupan cerdas lain di luar angkasa? Hukum probabilitas menyukai adanya kecerdasan lain di dalam galaksi. Galaksi itu memang berlimpah-limpah dengan bentuk-bentuk yang maju dari peradaban.
Kalau memang ada kecerdasan lain di luar sana, mengapa kita tidak menemukannya? Salah satu jawabannya adalah bahwa peradaban dengan kecerdasan itu cukup maju untuk menyembunyikan keberadaannya dari mesin-mesin penelitian ruang angkasa kita. Kita tidak berarti apa pun bagi mereka karena kemajuannya jutaan tahun mendahului kemajuan kita.
Ada alasan lain mengapa kita sejauh ini belum menemukan tanda-tanda peradaban luar angkasa itu. Pertemuan dua tipe peradaban yang tidak setara, seperti peradaban Tipe 0 dan Tipe III, sering mempunyai implikasi kerusakan pada peradaban yang lebih lemah – peradaban Tipe 0.  Demi kemajuan, peradaban kita akan berkembang ke arah tipe yang lebih tinggi, barangkali tanpa pengaruh peradaban-peradaban yang lebih maju di luar angkasa.
Naik dan Runtuhnya Peradaban
Alasan lain lagi kita barangkali tidak akan bertemu dengan peradaban-peradaban lebih maju di luar angkasa? Peradaban-peradaban sangat maju itu hancur karena tidak mampu mengatasi serangkaian bencana, alami dan yang ditimbulkannya sendiri. Kalau teori ini betul, kapal-kapal ruang angkasa kita suatu hari barangkali akan menemukan puing-puing peradaban tua di planet-planet yang jauh, atau peradaban kita pun barangkali akan mengalami kehancurannya juga.
Demi kelanjutan peradaban kita, apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengidentifikasi beberapa halangan penting yang harus kita lewati selama ribuan tahun mendatang sebelum kita bisa menjadi penguasa dimensi kesepuluh. Halangan-halangan itu mencakup halangan uranium, ambruknya ekologi, suatu abad es yang baru, perjumpaan jarak dekat astronomis, Nemesis (Bintang Maut) dan kepunahan, dan matinya matahari dan galaksi Bima Sakti.
Halangan uranium
Pengembangan dan pemakaian bom atom menjelang akhir Perang Dunia II dan pengembangan bom hidrogen sesudah perang besar itu menunjukkan bahwa manusia menguasai kemungkinan menimbulkan pemusnahan total atas kehidupannya dan bentuk-bentuk hidup lainnya di bumi. Sesudah Uni Soviet bubar, bekas negara komunis itu masih memiliki sekitar 50.000 senjata nuklir yang bisa ditembakkan secara tepat dengan memakai roket-roket. Seandainya jumlah senjata nuklir itu dipakai dalam suatu perang skala global melawan AS dan negara-negara lain sebagai musuhnya, pemusnahan yang bisa dan sulit kita bayangkan bisa terjadi.
Tapi kalau rudal-rudal nuklir tidak menghancurkan setiap orang dalam tembakan-tembakan awal suatu perang nuklir, kita bisa membayangkan kematian mengerikan karena musim dingin nuklir. Selama musim itu, jelaga dan abu dari kota-kota yang terbakar perlahan-lahan menghentikan semua sinar matahari pemberi hidup.
Akhirnya, ada bahaya dari pengembangan nuklir. India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel, misalnya, sudah mengembangkan bom-bom atom. Data intelijens AS menyingkapkan bahwa dua puluh negara lain akan memiliki bom-bom nuklir menjelang tahun 2000. Bom-bom itu akan dikembangkan secara cepat di kawasan-kawasan paling panas dunia, termasuk Timur Tengah.
Situasinya sangat tidak stabil, dan akan terus demikian ketika bangsa-bangsa bersaing demi sumber-sumber daya yang menipis dan demi lingkaran pengaruh. Tidak hanya masyarakat kita tapi juga setiap peradaban yang cerdas di dalam galaksi yang mendirikan suatu masyarakat industrial akan menemukan unsur 92 (uranium) dan dengan penemuan itu memiliki kemampuan untuk melakukan kehancuran massal. Unsur 92 mempunyai sifat menahan suatu reaksi berantai dan melepaskan jumlah yang sangat besar dari energi yang tersimpan dalam intinya. Kemampuan menguasai unsur 92 bisa mengakibatkan kehidupan berkembang atau hancur melalui api nuklir.
Peradaban Tipe 0 timbul banyak kali dalam sejarah galaksi kita selama 5 miliar sampai dengan 10 miliar tahun. Tapi semuanya akhirnya menemukan unsur 92. Kemampuan teknologi suatu peradaban yang berkembang lebih cepat dari masyarakatnya bisa diikuti munculnya berbagai  negara-bangsa yang bermusuhan. Ada peluang yang besar bahwa peradaban itu sudah lama menghancurkan dirinya sendiri dalam suatu perang atomik.
Untuk menjadi penguasa dimensi kesepuluh, kita harus mampu melewati halangan uranium tadi. Kita harus menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan masyarakat. Kalau kita ingin berkomunikasi dengan suatu peradaban yang maju, kita harus memindainya pada era yang tepat sebelum peradaban itu meledakkan dirinya sendiri.
Ambruknya ekologi
Dengan asumsi bahwa suatu peradaban Tipe 0 bisa menguasai uranium tanpa membinasakan dirinya dalam suatu perang nuklir, halangan berikut adalah kemungkinan ambruknya ekologi. Sebelum mencapai peradaban Tipe I, penduduk peradaban Tipe 0 bisa menghabiskan sumber daya alaminya. Masa kini, jumlah penduduk dunia sekitar 6 miliar orang. Pertambahan jumlah populasi dunia akan menimbulkan tekanan pada sumber-sumber daya alami dan memperburuk masalah polusi. Salah satu bahaya yang paling nyata adalah peracunan atmosfir, dalam bentuk karbon dioksida, yang membuat sinar matahari terperangkap dan meningkatkan suhu rata-rata sedunia dan bisa menghasilkan suatu efek rumah hijau. Bencana kelaparan dan ekonomi bisa menyebar pada suatu skala global.
Untuk mengatasi bahaya ambruknya ekologi, kita membutuhkan suatu kebijakan planeter yang terkoordinasi.  Yang mendesak untuk dipecahkan adalah masalah karbon dioksida. Dua cara pemecahan masalah ini mencakup energi matahari dan pabrik fusi. Energi matahari sebagai bahan bakar masa depan bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida. Daya fusi yang menggabungkan atom-atom hidrogen dalam air laut pun bisa menghasilkan bahan bakar yang bersih. Kedua sumber energi ini bisa tersedia selama beberapa abad bagi peradaban Tipe 0 sebelum masyarakat peradaban ini mampu membuat peralihan ke peradaban Tipe I.
Kita juga membutuhkan kebijakan planeter yang menjamin keseimbangan antara kemajuan teknologi dan masyarakat. Di satu pihak, ada negara-bangsa tertentu yang menghasilkan polusi dan ancaman bom nuklir; di pihak lain, tindakan untuk mengatasi polusi dan halangan uranium bersifat planeter. Selama ada ketimpangan ini, bahaya ambruknya ekologi planeter masih mengancam. Maka, ambruknya ekologi dan halangan uranium akan ada sebagai bencana-bencana yang mengancam kehidupan bagi peradaban Tipe 0 sampai bahaya ini diatasi.
Suatu abad es yang baru
Suatu abad es bisa berlangsung antara puluhan ribu dan ratusan ribu tahun. Suatu abad es diduga terjadi karena aliran-aliran dari kutub menggerakkan massa udara kutub yang membeku makin ke arah selatan kutub. Gerak ke arah selatan itu lalu mengakibatkan suhu anjlok keliling dunia dan menghasilkan suatu abad es. Abad es itu menimbulkan kerusakan besar pada ekologi bumi dengan melenyapkan puluhan bentuk hidup mamalian dan barangkali memunculkan ras-ras baru, suatu gejala yang relatif baru.
Untuk mengatasi abad es berikutnya, penduduk peradaban Tipe 0 membutuhkan kemampuan mengendalikan cuaca. Akan tetapi, sejauh ini, teknologi kita – khususnya, komputer – belum mampu membuat ramalan yang cermat tentang cuaca esok hari dan bahkan tentang abad es berikut.
Meskipun demikian, peradaban Tipe 0 kita sangat berpeluang mengendalikan cuaca kalau ia berhasil mengatasi halangan uranium dan ambruknya ekologi dan mencapai suatu peradaban Tipe I. Peradaban ini akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan cuaca dalam beberapa ratus tahun. Kalau umat manusia mampu mencapai status I atau yang lebih tinggi sebelum abad es berikut muncul, mereka akan mampu mencegah kehancuran dirinya karena abad es. Mereka entah akan mengubah cuaca dan mencegah abad es atau meninggalkan bumi.
Perjumpaan jarak dekat astronomis
Dalam jangka waktu dari beberapa ribu sampai dengan beberapa juta tahun, peradaban Tipe 0 dan I belum aman. Mereka harus waspada terhadap tabrakan planetnya dengan asteroid dan supernova yang dekat dengan planetnya.
Orbit bumi melintasi orbit banyak asteroid. Ini mengakibatkan kemungkinan asteroid menabrak bumi sangat besar.
Pada bulan Januari 1991, NASA (badan penerbangan luar angkasa Amerika Serikat) memperkirakan bahwa ada antara sekitar 1.000 dan 4.000 asteroid berdiameter lebih besar dari 800 meter yang melintasi orbit bumi. Akan tetapi, hanya sekitar 150 dari asteroid besar ini yang sudah dijejaki secara memadai melalui radar. Selanjutnya, ada sekitar 30.000 asteroid berdiameter sekurang-kurangnya sekitar 90 meter yang melintasi orbit bumi. Sayangnya, para ilmuwan hampir tidak tahu tentang asteroid-asteroid yang lebih kecil ini.
Apa jadinya seandainya sebuah asteroid raksasa berdiameter beberapa kilometer menabrak bumi? Kerak bumi akan retak, miliaran ton magma yang meleleh akan dimuncratkan, dan gempa bumi serta gelombang pasang raksasa akan melanda seluruh bumi. Kiamat atau bencana mirip kiamat timbul bagi umat manusia dan ekologi bumi.
Salah satu cara bagi suatu peradaban Tipe 0 atau I untuk mencegah tabrakan asteroid adalah menghancurkan asteroid itu di luar angkasa. Roket-roket berisi bom-bom hidrogen ditembakkan untuk mencegat dan mengalihkan arah orbit asteroid itu sementara ia masih sejauh puluhan juta kilometer dari bumi.
Meskipun lebih jarang, tapi lebih spektakuler dari tabrakan asteroid, adalah ledakan supernova dekat bumi. Sebuah supernova yang meledak melepaskan jumlah luar biasa dari energi, lebih besar dari keluaran ratusan miliar bintang,  sampai ia akhirnya lebih terang dari seluruh galaksi itu sendiri. Ledakannya menghasilkan ledakan-ledakan sinar x yang cukup untuk menimbulkan gangguan-gangguan hebat pada bumi. Paling buruk, ledakan itu cukup untuk menghancurkan semua bentuk hidup di bumi.
Sayangnya, supernova memberi sedikit peringatan tentang ledakannya. Suatu ledakan supernova sangat cepat, dan radiasinya merambat pada kecepatan cahaya, sehingga suatu peradaban Tipe I harus melakukan upaya meloloskan diri secara cepat ke luar angkasa. Satu-satunya sikap berhati-hati yang bisa diambil peradaban ini ialah memonitor secara teliti bintang-bintang terdekat yang akan berubah menjadi supernova.
Faktor Nemesis dan kepunahan
Kepunahan tiba-tiba dinosaurus terjadi 65 juta tahun yang lalu oleh tabrakan sebuah komet atau asteroid pada bumi. Bekas tabrakan dahsyat itu diduga adalah suatu kawah berdiameter 176 kilometer di desa Chicxulub, Yucatan, Meksiko. Metode penanggalan radioaktif menunjukkan bahwa kawah Yucatan itu berusia kurang lebih 64.98 juta tahun, kira-kira antara periode Tersier dan Kretasius. (Masing-masing mengacu pada dua periode waktu geologis yang berbeda; periode Tersier antara 65 juta dan 1.6 juta tahun yang lalu sementara periode Krestasius antara 144 juta dan 65 juta tahun yang lalu.)
Punahnya dinosaurus adalah salah satu dari beberapa kepunahan massal yang terdokumentasi dengan baik. Misalnya, kepunahan massal yang mengakhiri periode Permian (antara 290 juta dan 248 juta tahun yang lalu) menghancurkan 96% dari semua spesis tanaman dan hewan 250 juta tahun yang lalu. Sesungguhnya, sudah terjadi lima kepunahan massal dari kehidupan hewan dan tanaman. Kalau kepunahan massal yang kurang terdokumentasi dengan baik dimasukkan, kita menemukan suatu pola: kira-kira setiap 26 juta tahun, terjadi suatu kepunahan massal.
Apa penyebab suatu siklus waktu sebanyak 26 juta tahun itu? Nemesis atau Bintang Maut, sebuah bintang kembar yang tidak tampak dari matahari kita. Setiap 26 juta tahun, Nemesis mengitari matahari kita, kembarnya. Sementara Bintang Maut itu menembus awan Oort (suatu awan komet-komet yang diduga ada di luar orbit Pluto), ia membawa sertanya hujan komet-komet yang tidak kita inginkan. Beberapa komet itu menghantam bumi dan menimbulkan puing-puing yang cukup yang menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi. Timbullah sebagai akibatnya kepunahan massal kehidupan hewan dan tanaman.
Masa kini, kita ada di antara siklus-siklus kepunahan massal. Artinya, Nemesis, kalau ada, terdapat pada titiknya yang paling jauh dalam orbitnya (barangkali sejauh beberapa tahun cahaya). Ini memberi kita waktu sekitar 10 juta tahun sebelum Nemesis muncul.
Untungnya, menjelang waktu komet-komet dari awan Oort melintasi tata surya kita lagi, kita sudah mencapai suatu peradaban Tipe III. Ini berarti kita akan menaklukkan tidak hanya bintang-bintang dekat planet kita tapi juga bepergian melewati ruang-waktu.
Kematian matahari
Matahari kita adalah sebuah bintang yang baru mencapai separuh dari usianya, sekitar 5 miliar tahun. Ia barangkali akan tetap menjadi sebuah bintang kuning selama 5 miliar tahun lagi. Sesudah itu, matahari kita akan mati. Ia kehabisan bahan bakar hidrogennya, membakar helium, menjadi suatu raksasa merah sesudah mengembang secara luar biasa, atmosfirnya yang mengembang sangat cepat menjangkau orbit Mars dan bumi, menggoreng bumi dengan suhunya yang luar biasa panasnya, dan  menghanguskan bumi dan molekul-molekul dalam tubuh manusia.
Berbeda dengan supernova, akan ada peringatan yang cukup dari matahari sebelum ia mati. Kalau kita hidup sampai dengan masa menjelang kematian matahari dan mengetahui tanda-tanda kematiannya, kita bisa meninggalkan tata surya kita menuju sistem bintang yang lain yang menunjang kehidupan kita dan yang aman dari bencana kematian matahari. Menjelang keberangkatan itu, kita sudah mencapai suatu peradaban Tipe III.
Kematian galaksi
Seperti matahari dalam tata surya kita, galaksi Bima Sakti tempat tata surya kita ada akan mati juga. Artinya, sekitar 200 miliar bintang di dalam Bima Sakti akan turut mati.
Apa penyebab matinya Bima Sakti? Galaksi Andromeda. Galaksi ini adalah tetangga terdekat Bima Sakti, dua atau tiga kali lebih besar dari galaksi kita, dan berjarak sekitar 2 juta tahun cahaya. Kedua galaksi ini tengah meluncur cepat dan saling mendekati pada kecepatan 125 kilometer per detik. Kedua-duanya akhirnya akan saling bertabrakan dalam waktu antara 5 miliar dan 10 miliar tahun dari sekarang. Galaksi kita akan ditelan dan dihancurkan galaksi Andromeda.
Suatu peradaban Tipe III akan mampu menghindari tabrakan maha dahsyat ini dengan berpindah ke galaksi lain yang aman dan mampu mengakomodasi kehidupan manusia dan bentuk-bentuk hidup lainnya. Peradaban macam ini diperkirakan sudah akan ada jauh sebelum galaksi Bima Sakti mati.
Akhirnya, pada skala miliaran tahun dari sekarang, alam semesta sendiri akan mati. Dalam kaitan ini, alam semesta entah terbuka entah tertutup. Dalam kondisi pertama, alam semesta akan tetap mengembang sampai suhunya berangsur-angsur mencapai titik mendekati nol. Dalam kondisi kedua, mengembangnya alam semesta akan dibalikkan dan ia mati dalam suatu Derak Besar (Big Crunch) yang bernyala-nyala.
Itu akan menjadi nasib yang mematikan bagi peradaban Tipe III. Peradaban masa depan itu tetap tidak bisa menghindari keterikatannya pada ruang dan waktu, bagian dari alam semesta yang mati. Maka, meloloskan diri dari satu sistem bintang ke sistem bintang yang lain menjadi mustahil.
Tapi ada suatu kemungkinan umat manusia di masa depan lolos dari kematian alam semesta: melalui ruang hiper. Apakah penguasaan ruang hiper, khususnya dimensi kesepuluh, oleh suatu  peradaban Tipe III di masa depan bisa menyelamatkan umat manusia dari bencana terakhir itu, yaitu, kematian alam semesta?
Info Audiovisual tentang Peradaban Tipe 0, I, II, dan III
Anda yang ingin memahami lebih baik ramalan tentang keempat tipe peradaban tadi secara audiovisual bisa mengaksesnya melalui http://www.youtube.com di Internet. Sesudah membuka situs ini, ketiklah type 3 civilization pada kotak dialog lalu klik atau Enter. Ada beberapa video yang bisa Anda baca. Cobalah buka video yang berisi penjelasan Michio Kaku tentang tipe-tipe peradaban tadi. Video lain yang memberi penjelasan ringkas dan visual tentang keempat jenis peradaban itu adalah The History and Future of Earth, Part 10: The Future of Humans. Video ini meramalkan bahwa peradaban Tipe 0 yang mengembangkan teknologi militer, holografik, otomotif, laser, robot, nano, penerbangan ruang angkasa, dan lain-lain akan beralih menjadi peradaban Tipe I pada tahun 2350. Peradaban ini berlangsung selama 750 tahun lalu beralih menjadi peradaban Tipe II pada tahun 3100. Sekitar 970.000 tahun kemudian, peradaban Tipe II beralih ke peradaban Tipe III pada tahun 1.000.000 M. Setiap tipe peradaban tadi menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang menakjubkan yang rinciannya bisa Anda baca dan tonton pada video kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s